Bangku Depan Angkot, 2016

Mira memiliki suatu urusan yang membuatnya harus pergi ke luar rumah menggunakan angkot. Tidak mudah, karena ia pergi dengan membawa anaknya yang baru berumur sekitar 3 bulan. Saat bepergian membawa bayi, diaper bag yang cukup besar berisi berbagai perlengkapan bayi selalu ia bawa serta. “Jika saja mobil ayahku tidak mudah rusak, tentu aku sudah meminjam dan menggunakannya”, pikirnya.

Mira juga tidak bisa meminta antar suami, karena Mira dan suaminya terjebak dalam kondisi long distance marriage (LDM). Kenapa disebut ‘terjebak’? Karena Mira terikat ikatan dinas harus bekerja pada perusahaan yang sama, saat itu di Bandung selama 3 tahun, sementara Mira baru menjalani pekerjaannya 1,5 tahun. Suami Mira bekerja di Jakarta. Keduanya menikah setelah bekerja dan keduanya tidak memungkinkan resign setelah menikah. Kondisi LDM ini sebenarnya malah membentuk Mira menjadi pribadi mandiri dan tangguh, karena Mira jadi terbiasa berjalan ke sana ke mari membawa bayi sendiri; baik itu naik angkot, naik motor maupun naik mobil.

Urusan hari itu telah selesai, Mira pulang menggunakan angkot, dan duduk di bangku depan di sebelah supir angkot sembari menggendong anaknya. Saat berhenti di depan lampu merah, supir angkot saat itu memperhatikan anak bayi yang lucu itu, lalu bertanya,

“Umur berapa anaknya neng?”

“Tiga bulan Pak”, jawab Mira.

“Lahirannya gimana, normal?”, tanya supir angkot itu lagi.

“Normal, Pak”, jawab Mira lagi. Masyarakat banyak mispersepsi terhadap istilah pervaginam atau normal. Yang dimaksud ‘normal’ di masyarakat sebenarnya adalah pervaginam, yaitu persalinan melalui vagina. Namun persalinan pervaginam sendiri terdiri dari beberapa cara, seperti spontan, atau dengan bantuan beberapa alat seperti vakum, forcep dan lainnya. Sedangkan persalinan yang dijalani Mira itu tidak se’normal’ menurut definisi KBBI – sebenarnya Mira menjalani persalinan tersebut secara vakum. Namun Mira jawab saja ‘normal’ sesuai definisi masyarakat.

Supir angkot dan Mira kembali mengobrol seputar persalinan anak, sampai pada suatu topik di mana sang supir bercerita,

“Istri saya juga baru saja lahiran beberapa bulan lalu”

Supir angkot itu merenung sejenak, lalu melanjutkan, “yang namanya suami itu akan jadi (semakin) sayang setelah melihat istrinya melahirkan.”

Keduanya terdiam, obrolan itu tidak berlanjut. Mira mengetahui bahwa supir angkot itu sangat menyayangi istrinya setelah mendengar kalimat tersebut. Kalimat yang tulus keluar dari supir angkot, yang teringat keluarganya setelah melihat lucunya anak Mira. Memang perjuangan melahirkan itu tidak mudah, resikonya nyawa. Namun kalimat tulus tersebut malah membuat dada Mira sesak, sesak sekali. Terasa tetes demi tetes air keluar dari matanya, namun segera ia seka dengan tisu agar tidak malu ketahuan nangis di bangku depan angkot.

Sambil memandangi anaknya, Mira berpikir “Suamiku tidak seperti itu”

dan Mira masih menangis.
Angkot-Bandar-Lampung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s